Mendung Putih

Dan Aku tak Ingin




Bukan tentang atap yang dihujam hujan pagi kemarin, namun hangatmu, tak ubah separuh cokelat di dalam cangkir retak milikku. Dari balik uapnya, kucoba melukis raut lain di depan jendela. Bukan lagi langkah gempita, embun kan mengembalikan engkau seutuhnya. Dan aku tak ingin...

Betapa kuingat pudar warna, bahagia yang berjatuhan tiap derap langkahmu bergema. Namun hanya punggungmu yang masih sanggup kukenang, berlalu bagai debu, tak kembali pulang.

Nada kini bukan lagi mendung, dan aku tak mau berteduh di bawah payung milikmu. Sekalipun engkau memanggil lewat suara, hening, desir kata di telinga. Walau engkau ada di setiap mata, setiap cerca, paragraf yang tergores tinta. Aku tak mau berhenti, sebab waktu kan menghadirkanmu seluruhnya. Dan aku tak ingin..

Bukan tentang udara yang meruapkan aroma dingin tubuhmu, namun air mata, seperti harapan yang jatuh dan menghilang di sela getir fajar. Bukan tentang siapa yang tanpa permisi meninggalkan rindu, namun  jiwa, jeruji yang kubangun bagi puisi dan cinta, masih mencarimu di setiap ruang..

Walau aku tak ingin...

No comments

Post a Comment