Mendung Putih

Sasmaka







Laksana sasmaka, untai doa nan rupawan kau ukir parasnya. Seperti prasasti tentang cintamu, yang pergi lebih dahulu. Namun engkau tak butuh cahaya, sebab tapakmu begitu mengenal jalan. Tak goyah walau genggam kecil di kananmu seakan kian berat, melebihi beban yang kau sampirkan di kedua pundak.

Ah, malam pun mengasihaniku. Tak hanya mimpi yang pelan-pelan padam. Bingkisan kecil dariMu sungguh tak mampu kuterima, bahkan dengan tawa, bahagia yang engkau pinta lewat sabda.

Sebentar lagi beku kan dicairkan jingga, tak terasa waktu tiba-tiba menepati janjinya, Ku tahu bukan engkau sang pelukis belukar dalam cerita, sebab masih kau sambut merah dengan damai, seperti kemarin, saat asa buatku tak lagi berarti apa-apa.

Aku hanya harus tetap berjalan, begitu kan?




No comments

Post a Comment