Mendung Putih

Makam Asa






Dan, resah lalu dalam puisi. Sepintas imaji sempurna tentang yang bertaut, terpetik samar lalu singgah, betah berlama-lama...

Saksi tentangnya adalah tiada. Biar kita yang tahu, katamu. Namun bukankah dunia sudah terlalu lama menunggu?

Kelak ku ingin binar keruh ini melukis indah. Engkau, tentu saja,
Tapi senyum tawarmu memakamkan asa. Mengapa? tanyaku.
Biar kita yang tahu, begitu lagi bisikmu.
Aku pun mengangguk, melepas angan tanya.

Entah sampai kapan senja ini menjadi atap, bagiku dan engkau.
Sedang gelap setia membayang, kian gentarkan hangat jiwa.
Ah, entah kenapa..
Genggammu masih seerat biasa.
Tegar, tulus, sederhana.

Dan, di tanah serupa pusara
bagi bait mimpi dan suara

Aku tak lagi berpendar asa.

1 comment

  1. kamu sering datang bersama seberkas soalan, yang pastinya kamu juga tahu, aku ngak kan pernah bisa memberinya jawapan, kerna antara kamu dan aku itu satu, jadi mengapa harus ada persoalan dan jawapan antara kita..

    ReplyDelete