Mendung Putih

Senja Di Anjungan Usia




Kau tak tahu betapa rindu jemari ini, merengkuh hangat setiap nyawa kembali singgah tuk sementara. Selimut yang kau sulam dari mimpi indah masih melekat, membalut beku yang entah kenapa terasa semakin menyakitkan. Ah, aku tahu kau di sana. Masih dengan cemas yang coba kau sembunyikan.

Katamu, engkau akan terbang bersama warna senja kemarin. Lantas musim hujan nanti kau akan pulang, membawa cerita-cerita indah yang mungkin tak lagi berhias namaku. Membawa hal-hal indah, lebih terang dari cahaya yang kutidurkan dalam dada.

Katamu, engkau akan berlayar jauh. Sementara aku menunggu di anjungan, memintal usia sembari tetap tersenyum seperti pintamu kala itu. Namun dalam birunya, ada tanya sedalam itu pula. Kemana kiranya engkau, negeri seperti apa yang kau jejaki nun di sana?

Kau tak tahu betapa rindu mata ini menatap, meski dari balik air mata, gerakmu yang menerbangkan merpati-merpati ke angkasa. Saat suaramu melukis bulan sabit, bahkan jingga masih betah berlama-lama. 

Kini bertahun sudah, ombak tak jua membawa berita. Asa penuh ikrar pun tak lagi punya apa-apa, selain cinta, janji yang kujaga.

Ke mana harus kucari lagi, Tuhan? setelah kuikhlaskan segala, tak bisakah aku menyimpan yang ini saja?

No comments

Post a Comment