Mendung Putih

Bahkan Ketika Sayapmu Patah




Saban gulita sepekat ini, engkau tak mengepakkan sayap
Barangkali, hari ini jutaan bintang kan padam, begitu firasat kita
Namun tak apa, di jemari genggammu masih tak segentar biasa
Aku tak perlu mundur, kan kuiring engkau melesat

Engkau tak peduli berapa kali benci menikammu
Milyaran mata hanya bercakap tanpa suara, tak tahu baik hatimu
Debarmu setia mengisi raga, kuatku selama disayat udara
Engkau tak pernah lari, engkau selalu di sisi

"Aku akan membawa matahari kembali ke kota ini," bisikmu.
"Tuhan takkan meninggalkanku.."

Engkau berjalan meski darah terus meminta berhenti
Singgah sejenak di teduhnya kihujan, atau terpejam selamanya
Kita tahu pilihan kita tak banyak
Namun binarmu tak pudar
Tak seperti harapku yang kadang hilang pijar

"Temani aku terbang.." pintamu tersenyum
"Ada rumah yang indah di sana.."

Dan ketika sayap maha indahmu perlahan terbuka,
Merah mewarnai jejak kita
Perih menghias wajahmu
menyatu dengan gerimis yang berderai dari pipiku

Malam itu, bintang terindahku akan mati, begitu firasatku
Tapi senyummu semakin terang, walau genggammu mulai lunglai
"Terima kasih," bisikmu sebelum cahaya yang kau bentangkan melukis riang di seluruh daratan.
Cahaya yang mengambilmu dari dekapku, dari tangisku yang memecah di sepadan waktu

No comments

Post a Comment